Edukasi Statistik

Profil Tenaga Kerja Indonesia 2024: Tantangan dan Peluang

Selesai

📊 Oleh Pojok Statistik Unhas 👋 Hallo Sobat Data! Tahun 2024 mencatatkan sebanyak 144,64 juta penduduk Indonesia yang bekerja, mencerminkan potensi besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Jumlah ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekuatan demografis yang signifikan. Namun, di balik angka yang impresif tersebut, masih banyak tantangan mendasar yang perlu disoroti agar pembangunan sektor ketenagakerjaan dapat diarahkan menuju sistem yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan responsif terhadap dinamika sosial-ekonomi. Salah satu aspek yang mencolok adalah ketimpangan distribusi tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin. Sebanyak 55,8 persen tenaga kerja adalah laki-laki, sementara perempuan hanya mencakup 44,2 persen dari total penduduk bekerja. Angka ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan partisipasi yang cukup signifikan antara laki-laki dan perempuan. Lebih jauh lagi, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan tercatat hanya 16,6 persen, angka yang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan kontribusi laki-laki. Hal ini mengindikasikan bahwa masih terdapat berbagai hambatan sosial, budaya, dan struktural yang membuat perempuan kesulitan untuk mengakses lapangan kerja, khususnya di sektor formal. Padahal, pemberdayaan perempuan dalam dunia kerja memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga, memperluas basis ekonomi, serta memperkuat daya saing tenaga kerja nasional. Di sisi lain, pergerakan struktur lapangan kerja juga menunjukkan dinamika yang menarik. Proporsi tenaga kerja formal yang sempat menurun pada tahun 2021 mulai menunjukkan peningkatan hingga tahun 2023. Pada tahun 2020, proporsi tenaga kerja formal berada di angka 41 persen. Meskipun sempat menurun, pada tahun 2023 angkanya kembali naik menjadi 38,5 persen. Ini merupakan sinyal positif bahwa proses formalisasi lapangan kerja perlahan mulai mengalami kemajuan. Sementara itu, sektor informal yang pada tahun 2020 mencakup 60 persen dari total lapangan kerja, mengalami penurunan menjadi 58 persen pada tahun 2023. Meski begitu, dominasi sektor informal masih cukup besar dan mengkhawatirkan karena pekerja informal umumnya tidak memiliki perlindungan hukum, jaminan sosial, atau kepastian pendapatan yang stabil. Kondisi ini menegaskan bahwa transformasi struktural menuju sektor formal masih harus menjadi prioritas pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Upaya formalisasi ini perlu disertai dengan reformasi regulasi ketenagakerjaan, penguatan UMKM agar naik kelas, serta peningkatan keterampilan dan daya saing tenaga kerja, khususnya di sektor-sektor yang sedang bertumbuh. Dari sisi distribusi sektoral, sektor industri makanan menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak dengan proporsi mencapai 4 persen. Hal ini disusul oleh industri pakaian jadi sebesar 2 persen, dan industri kayu serta barang dari kayu sebesar 1,06 persen. Ketiga sektor ini memiliki karakteristik sebagai industri padat karya, di mana kebutuhan tenaga kerja manual masih tinggi dan proses produksinya melibatkan banyak tenaga kerja langsung. Fakta ini menunjukkan bahwa industri manufaktur ringan masih memainkan peran penting dalam menyerap tenaga kerja, terutama di kalangan masyarakat berpendidikan menengah ke bawah. Situasi ketenagakerjaan pada tahun 2024 menggambarkan dinamika yang kompleks namun penuh peluang. Tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya proporsi sektor informal dan rendahnya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja. Namun demikian, adanya peningkatan pada sektor formal serta dominasi industri padat karya memberikan sinyal positif akan adanya peluang untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih layak dan produktif. Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif, progresif, dan berbasis data. Pemerintah dan berbagai pihak terkait harus bersinergi dalam menciptakan lingkungan kerja yang setara, adil, dan inklusif. Meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja, memperluas akses terhadap teknologi dan pasar kerja formal, serta menciptakan ekosistem industri yang sehat adalah langkah strategis yang bisa ditempuh untuk memperkuat fondasi ketenagakerjaan Indonesia di masa mendatang.

Pemanfaatan Data BPS bagi Perguruan Tinggi
Rabu, 28 Mei 2025
08:00 WIB
Universitas Hasanuddin

Dikelola oleh:

Didukung oleh:

© 2021 - Pojok Statistik BPS
Badan Pusat Statistik. Jl. Dr. Sutomo, No. 6-8, Jakarta Pusat, 10710.